"Mayyahdihillahu fala mudzillalah, wa may yudhlil falaa haadiyalah. Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuuluhulladzi laa nabiya ba'dah. Amma ba'du."
Rijalul ghad wa ummahatul ghad yang saya banggakan. Alhamdulillah, di kesempatan pagi hari ini yang sangat baik ini, Allah masih berkenan memberi kita kesehatan dan juga kesempatan. Pada kesempatan kali ini, tentu saja terasa spesial karena kita berada di satu bulan yang diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Keberkahan bulan Ramadan tentu saja akan kita raih kalau bulan Ramadan diisi dengan amal saleh. Sebab orang kafir pun mengalami bulan Ramadan, tapi bagi mereka tidak ada keberkahan. Bagi kita, bulan Ramadan akan terasa berkahnya, tidak ada lain kecuali bulan Ramadan diisi dengan amal saleh. Jadi, keberkahan akan kita rasakan kalau kita beramal saleh di bulan suci Ramadan.
Anak-anakku sekalian, pada kesempatan yang singkat ini, Ustaz ingin memberikan perspektif atau sudut pandang yang mungkin dianggap baru berkenaan dengan bulan suci Ramadan. Bisa juga dianggap anti-mainstream.
Di luar sana ada ungkapan mainstream yang mungkin kalian sering dengar para ustaz berbicara di atas mimbar, atau kalian baca di dalam buku-buku tentang Ramadan. Di sana diungkapkan bahwa bulan Ramadan itu adalah bulannya pendidikan atau bulannya latihan. Sering kita mendengar ungkapan itu: "Syahru Ramadhan syahrun tarbiyah" (Bulan Ramadan adalah bulannya pendidikan).
Saya anggap keliru ungkapan itu. Meskipun dilihat dari sisi lain mungkin dianggap benar, tapi saya anggap keliru ungkapan itu karena indikasinya adalah dalil-dalil yang sumbernya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bulan Ramadan itu justru bukan bulan pendidikan, bukan bulannya latihan. Saya ingin mengatakan bahwa bulan Ramadan ini justru adalah bulannya jihad dan pembuktian. Bulan Ramadan itu bukan bulannya lagi latihan!
Pertanyaan logikanya sederhana: Kalau bulan Ramadan dianggap bulan latihan, berarti kapan pembuktiannya? Sebelas bulan? Di mana logikanya ketika latihan itu lebih sebentar daripada pembuktiannya? Justru terbalik, latihannya adalah 11 bulan. Kita sudah latihan 11 bulan, lalu satu bulan sekarang adalah bulannya pembuktian. Bukan bulannya latihan, tapi bulannya pembuktian; pembuktian dan jihad dalam menjalankan serta membuktikan ketaatan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Apa dalilnya? Di antaranya adalah pengakuan para sahabat bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling saleh di antara para sahabat. Beliau adalah orang yang paling dermawan (ajwadun nas). Ketika masuk bulan suci Ramadan, kata para sahabat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih dermawan lagi. Ini adalah kesungguhan pembuktian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di bulan suci Ramadan.
Bahkan kata Siti Aisyah, ketika masuk 10 hari terakhir di bulan suci Ramadan, kaanan nabiyyu shallallahu 'alaihi wa sallam yajtahidu fil 'asyril awakhir, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu lebih berjihad lagi, lebih kuat lagi, dan lebih maksimal lagi semangatnya. Bahkan, Siti Aisyah melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak bersungguh-sungguh pada hari-hari yang lain kecuali 10 hari terakhir ini. Seolah-olah begitu.
Ikhwatul iman rahimakumullah, anak-anakku sekalian, ini menunjukkan bahwa bulan Ramadan bukan bulan latihan, tapi bulan pembuktian. Ditambah, ada satu malam yang kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam harus kalian cari malam itu, dan potensinya ada di 10 malam terakhir, bahkan di hari-hari ganjil. Oleh karena itu di 10 hari terakhir: ahyal laila (hidupkan malamnya), wa aiqadha ahlahu (bangunkan keluarganya), wa syadda mi'zarahu (jangan banyak tidur). Mengapa? Karena pada malam itu dimungkinkan ada malam yang sangat berkah, khairun min alfisy syahrin, yaitu malam Lailatul Qadar yang lebih baik daripada 1000 bulan. Sampai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf dan dilanjutkan oleh para istri-istrinya.
Anak-anakku sekalian, ini menunjukkan bahwa bulan Ramadan itu serius. Artinya bukan bulan latihan, tapi justru bulannya pembuktian, jihad, dan kesungguhan kita dalam membuktikan ketaatan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bahkan orang yang gagal di bulan suci Ramadan, kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dia akan celaka dan binasa. Raghima anfu rajulin (celaka seseorang), dakhala 'alaihi syahru ramadhan (dia diberikan kesempatan masuk di bulan suci Ramadan), tsummansalakha (kemudian bulan Ramadan itu berlalu begitu saja), qabla an yughfara lahu (padahal dosa-dosanya belum diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala). Artinya apa? Orang tersebut gagal di bulan suci Ramadan.
Kalau begitu, berarti bulan Ramadan ini bukan bulan latihan, tapi justru bulannya pembuktian dan jihad. Ketika bulan Ramadan diungkapkan oleh para ulama berdasarkan isyarat-isyarat dalil bahwa bulan Ramadan ini adalah bulannya Al-Qur'an (Syahrul Qur'an), maka ketika di bulan suci Ramadan ini kita berkhidmat, bermulazamah, dan bermushahabah dengan Al-Qur'an, dengan ujian tahfiznya, dengan muhadharah Al-Qur'an, maka ini sudah benar.
Artinya ikhwatul iman rahimakumullah, anak-anakku sekalian, jadikan bulan suci Ramadan sebagai pembuktian ketaatan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jangan sampai ketika kita selesai bulan suci Ramadan, kita dianggap oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai raghima anfu rajulin (orang yang celaka). Termasuk orang yang binasa karena kita gagal berada di bulan suci Ramadan. Karena sebegitu kuat risikonya, maka saya yakin bulan Ramadan bukan bulan latihan, tapi bulannya pembuktian.
Kapan kita latihannya? Sebelas bulan! Sebelas bulan yang lalu kita sudah dilatih untuk saum, sudah dilatih untuk bangun tidur salat malam, sudah dilatih untuk mengerjakan amal-amal saleh. Maka di bulan Ramadan ini, itu semua harus kita tingkatkan. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang celaka; diberi kesempatan dan ditakdirkan ada di bulan suci Ramadan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, tapi kita tidak bisa memanfaatkan peluang emas itu untuk beramal saleh dan bersungguh-sungguh berjihad membuktikan ketaatan kita.
Baik, anak-anakku sekalian, itu saja yang bisa disampaikan. Mudah-mudahan ada ilmu baru, ada perspektif baru, dan ada semangat baru dalam rangka mengisi bulan Ramadan kita kali ini dengan ketaatan-ketaatan dan amal saleh.
"Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wahablana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina 'adzabannar. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
All the participants attended. All students, attention!
The report of the ceremony commander to the inspector of ceremony that the ceremony is over. The inspector of the ceremony leaving the ceremony. Announcements.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, the weekly ceremony of Islamic Teacher Training Education of Al-Firdaus Islamic Boarding School has finished. All students dismissed.